pencarian

Sabtu, 23 November 2013

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango






Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia TNGP merupakan 5 Taman Nasional pertama yang ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980


Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama Pengelolaan Kawasan TNGGP merupakan salah satu dari 5 taman nasional yang dideklarasi oleh Pemerintah Indonesia tahun 1980 dan sampai tahun 2007 sudah 50 taman nasional dibentuk oleh Pemerintah di seluruh Indonesia Seperti halnya kawasan konservasi lainnya di Indonesia pengelolaan kawasan TNGP merupakan tanggungjawab dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Secara administrative



 kawasan TNGP berada di 3 kabupaten (Bogor, Cianjur dan Sukabumi) Propinsi Jawa Barat dengan letak geografis antara 6°41’ - 6°51’ LS, 106°50’ - 107°02’ BT Kantor pengelola yaitu Balai Besar TNGGP berada di Cibodas dan dalam pengelolaannya dibagi menjadi 3 (tiga) Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (Bidang PTN Wil) yaitu PTN Wil I di Cianjur, PTN Wil II di Selabintana-Sukabumi dan TN Wil III di Bogor Tentang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dengan luas 22.851,03 Ha kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan dengan hanya berjarak 2 jam (± 100 km) dari Jakarta Di dalam kawasan hutan TNGGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp) berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah , seperti jamur yang bercahaya Disamping keunikan tumbuhannya kawasan TNGGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar seperti kepik raksasa dan lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll serta 250 jenis burung Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung juga Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah Ketika anda hiking di kawasan TNGGP anda dapat menikmati keindahan ekologi hutan Indonesia Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995 Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus Mari bersama-sama melestarikan alam yang sangat berharga ini dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang!!!







Dimulai Dengan Hal Kecil Dengan Membuang Sampah Pada Tempatnya Flora dan Fauna Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana. Ekosistem sub-montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus) , dan puspa (Schima walliichii) Sedangkan ekosistem sub-alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis (Anaphalis javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium) Juga terdapatnya si pohon raksasa Rasamala (Altingi Exelsa) kantong semar (Nephentes spp) berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya Disamping keunikan tumbuhannya kawasan TNGGP juga merupakan habitat bagi satwa primata yang terancam punah seperti Owa (Hylobates moloch) Surili (Presbytis comata) dan Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) dan satwa langka lainnya seperti Macan Tutul (Panthera pardus melas) Landak Jawa (Hystrix brachyura) Musang leher kuning (Martes flavigula) dan Kijang (Muntiacus muntjak) TNGP terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa Beberapa jenis diantaranya burung langka yaitu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Burung Hantu (Otus angelinae) 



Wisata Alam Ada 6 pintu masuk menuju kawasan TNGGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung Kantor Balai Besar TNGGP, pusat informasi (visitor center) dan tempat pendaftaran pendakian berlokasi di Cibodas Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango Puncak dan Kawah Gunung Gede Gunung Gede Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di Indonesia ± 50.000 pendaki per tahun bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas Juga Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri






 Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas Alun-alun Suryakencana Dataran seluas ± 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss Berada pada ketinggian 2.750 m dpl dengan jarak ± 11,8 km atau ± 6 jam perjalanan dari Cibodas Lembah Mandalawangi Lembah Mandalawangi berada 15 menit ke arah timur dari Puncak Pangrango banyak ditumbuhi bunga Abadi (Edelweiss) dan luasnya tidak seluas alun alun Suryakancana




 Dan di lembah mandalawangi inilah abu dari jasad aktivis tahun 1960-an (Soe Hok Gie) disebar “Aku mencintai Pangrango karena aku mencintai keberanian hidup” tulis Gie di catatan hariannya yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran



Air Terjun Cibeureum Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar ± 50 meter terletak sekitar ± 2,8 km dari Cibodas Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat Telaga Biru Danau kecil berukuran ± 5 hektar berada diketinggian 1.575 m dpl terletak ± 1,5 km dari pintu masuk Cibodas Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru 


Air Panas Terletak sekitar ± 5,3 km atau ± 2 jam perjalanan dari Cibodas Air panas ini berada di trek pendakian Kandang Batu, Kandang Badak, Gunung Putri dan Selabintana
 








Tidak ada komentar:

Posting Komentar