pencarian

Senin, 06 Oktober 2014

Tipikal pendaki



Ada Unsur yang Harus kita gali dalam diri kita dalam hal meraih kesuksesan hidup. Mengenal lebih jauh akan pribadi kita secara mendalam, bercermin. Pepatah bilang Kenali dirimu sebelum engkau mengenal diri orang lain. Karena apabila kita belum bisa mengenal diri kita sendiri bagaimana kita bisa mengetahui siapa orang lain yang ada disekitar kita.
Manusia itu seperti diibaratkan seorang pendaki… ada tiga tipe pendaki yang ada di diri manusia.


1. Pendaki yang Pertama adalah bila ia ingin melakukan pendakian sekiranya ia sampai di lereng gunung dan ia melihat betapa tingginya gunung yang akan didaki, ia pun merasa usahanya hanya sampai di lereng gunung saja karena di membayangkan kesuliatan yang akan di rasakan apabila ia mendaki nanti.

2. Pendaki yang Kedua adalah ketika iya sampai di lereng gunung dia melihat betapa tingginya gunung tersebut tapi dia merasa tertantang dengan kemegahan alam dan ketiinggiannya. Dia pun mendaki dengan penuh semangat dan dia berhasil menaklukan gunung itu. Diapun berpikir sudah cukup baginya karena dia merasa dia sudah berhasil menaklukan gunung tersebut.

3. Pendaki yang ketiga adalah ketika iya berhasil mendaki satu gunung, dan dia melihat dari atas gunung itu terlihat dan terhampar di depannya gunung-gunung lain yg ternyata lebih tinggi dari gunung yang barusan ia daki. Dan iapun mencoba lagi menaklukan gunung-gunung yang lain.

Dari beberapa tipe pendaki di atas. Disimpulkan

1. Pendaki yang Pertama adalah orang dimana ketika mau berusaha dia langsung menyerah dengan apa yang ingin dia usahakan, Seperti orang kalah sebelum berperang. Tipe manusia seperti ini tipe manusia yang sangat menggantungkan hidupnya sama orang lain tanpa mau bekerja dan berusaha.

2. Pendaki yang kedua adalah Tipe manusia yang mau berusaha dalam
hidupnya, sampai ia bekerja keras dari titik nol sampai dia berhasil meraih apa yang ia cita-cita kan. Dan setelah ia merasa berhasil dengan apa yang ia cita-cita kan iapun merasa puas dan cukup dengan keberhasilan yang ia raih.

3. Pendaki yang Ketiga adalah Tipe manusia Yang mempunyai banyak mimpi dan di berusaha meraih mimpi-mimpinya itu. Keberhasilan Pertama tidaklah cukup baginya untuk terus berusaha dan bekerja meraih keberhasilan yang lain. Ini adalah Tipe yang terbaik dari Tipe manusia yang diatas.

Pertanyaannya
Tipe Yang Manakah Kita?

Kesuksesan Bukan di lihat dari kaya atau banyak uangnya sesorang, kesuksesan dimana kita Mampu mensyukuri kepada yang memberi kesukesan atau keberhasilan.



Sabtu, 23 November 2013

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango






Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) mempunyai peranan yang penting dalam sejarah konservasi di Indonesia TNGP merupakan 5 Taman Nasional pertama yang ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 1980


Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama Pengelolaan Kawasan TNGGP merupakan salah satu dari 5 taman nasional yang dideklarasi oleh Pemerintah Indonesia tahun 1980 dan sampai tahun 2007 sudah 50 taman nasional dibentuk oleh Pemerintah di seluruh Indonesia Seperti halnya kawasan konservasi lainnya di Indonesia pengelolaan kawasan TNGP merupakan tanggungjawab dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Secara administrative



 kawasan TNGP berada di 3 kabupaten (Bogor, Cianjur dan Sukabumi) Propinsi Jawa Barat dengan letak geografis antara 6°41’ - 6°51’ LS, 106°50’ - 107°02’ BT Kantor pengelola yaitu Balai Besar TNGGP berada di Cibodas dan dalam pengelolaannya dibagi menjadi 3 (tiga) Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (Bidang PTN Wil) yaitu PTN Wil I di Cianjur, PTN Wil II di Selabintana-Sukabumi dan TN Wil III di Bogor Tentang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Dengan luas 22.851,03 Ha kawasan Taman Nasional ini ditutupi oleh hutan hujan tropis pegunungan dengan hanya berjarak 2 jam (± 100 km) dari Jakarta Di dalam kawasan hutan TNGGP, dapat ditemukan “si pohon raksasa” Rasamala, “si pemburu serangga” atau kantong semar (Nephentes spp) berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah , seperti jamur yang bercahaya Disamping keunikan tumbuhannya kawasan TNGGP juga merupakan habitat dari berbagai jenis satwa liar seperti kepik raksasa dan lebih dari 100 jenis mamalia seperti Kijang, Pelanduk, Anjing hutan, Macan tutul, Sigung, dll serta 250 jenis burung Kawasan ini juga merupakan habitat Owa Jawa, Surili dan Lutung juga Elang Jawa yang populasinya hampir mendekati punah Ketika anda hiking di kawasan TNGGP anda dapat menikmati keindahan ekologi hutan Indonesia Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977 dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995 Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus Mari bersama-sama melestarikan alam yang sangat berharga ini dan mewariskannya kepada generasi yang akan datang!!!







Dimulai Dengan Hal Kecil Dengan Membuang Sampah Pada Tempatnya Flora dan Fauna Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana. Ekosistem sub-montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus) , dan puspa (Schima walliichii) Sedangkan ekosistem sub-alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis (Anaphalis javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium) Juga terdapatnya si pohon raksasa Rasamala (Altingi Exelsa) kantong semar (Nephentes spp) berjenis-jenis anggrek hutan, dan bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang belum dikenal namanya secara ilmiah, seperti jamur yang bercahaya Disamping keunikan tumbuhannya kawasan TNGGP juga merupakan habitat bagi satwa primata yang terancam punah seperti Owa (Hylobates moloch) Surili (Presbytis comata) dan Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) dan satwa langka lainnya seperti Macan Tutul (Panthera pardus melas) Landak Jawa (Hystrix brachyura) Musang leher kuning (Martes flavigula) dan Kijang (Muntiacus muntjak) TNGP terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa Beberapa jenis diantaranya burung langka yaitu Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan Burung Hantu (Otus angelinae) 



Wisata Alam Ada 6 pintu masuk menuju kawasan TNGGP yaitu: Cibodas, Gunung Putri, Bodogol, Cisarua, Selabintana dan Situgunung Kantor Balai Besar TNGGP, pusat informasi (visitor center) dan tempat pendaftaran pendakian berlokasi di Cibodas Pintu masuk Cibodas, Gunung Putri dan Selabintana merupakan akses utama menuju puncak Gunung Gede dan Pangrango Puncak dan Kawah Gunung Gede Gunung Gede Pangrango adalah satu-satunya gunung yang paling sering di daki di Indonesia ± 50.000 pendaki per tahun bisa jadi karena lokasinya yang berdekatan dengan Jakarta dan Bandung Untuk mengembalikan habitatnya biasanya tiap bulan Agustus ditutup untuk pendaki juga antara bulan Desember hingga Maret Untuk mengurangi kerusakan alam maka dibuatlah beberapa jalur pendakian, namun jalur yang populer adalah melalui pintu Cibodas Juga Jumlah pendaki dibatasi hanya 600 orang per malam, 300 melalui Cibodas, 100 melalui Selabintana, 200 melalui Gunung Putri






 Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas Alun-alun Suryakencana Dataran seluas ± 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss Berada pada ketinggian 2.750 m dpl dengan jarak ± 11,8 km atau ± 6 jam perjalanan dari Cibodas Lembah Mandalawangi Lembah Mandalawangi berada 15 menit ke arah timur dari Puncak Pangrango banyak ditumbuhi bunga Abadi (Edelweiss) dan luasnya tidak seluas alun alun Suryakancana




 Dan di lembah mandalawangi inilah abu dari jasad aktivis tahun 1960-an (Soe Hok Gie) disebar “Aku mencintai Pangrango karena aku mencintai keberanian hidup” tulis Gie di catatan hariannya yang dibukukan dengan judul Catatan Seorang Demonstran



Air Terjun Cibeureum Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar ± 50 meter terletak sekitar ± 2,8 km dari Cibodas Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat Telaga Biru Danau kecil berukuran ± 5 hektar berada diketinggian 1.575 m dpl terletak ± 1,5 km dari pintu masuk Cibodas Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru 


Air Panas Terletak sekitar ± 5,3 km atau ± 2 jam perjalanan dari Cibodas Air panas ini berada di trek pendakian Kandang Batu, Kandang Badak, Gunung Putri dan Selabintana
 








Kamis, 14 November 2013

Motivasi & Perjuangan seorang Pendaki



Bercerita tentang seorang pendaki gunung yang bernama Aevo, yang memaknai hidup dari perjuangan yang dia lakukan. Hampir seluruh waktu dalam hidupnya dipakai untuk menaklukkan gunung-gunung yang menjulang tinggi, hanya untuk melihat pemandangan mana yang terindah. Semakinn tinggi gunung yang dia taklukkan, semakin indah pemandangan yang ia dapatkan. Hingga pada suatu kesempatan,Aevo memutuskan untuk mendaki sebuah gunung yang amat tinggi. Aevo merasa itulah gunung tertinggi yang pernah ia hadapi. Dalam hati Aevo ada ketakutan,hal yang selalu datang dalam hatinya setiap akan mendaki sebuah gunung. Seperti biasa pula, Aevo berusaha menenangkan hatinya.



Setelah merasa cukup tenang,Aevo mulai melangkahkan kaki, selangkah demi selangkah. Mendaki gunung yang akan menghadiahi dia banyak tantangan dengan bekal seadanya.
Tidak terasa, Aevo sudah mendaki seperempat dari gunung tersebut. Aevo melihat sejenak ke belakang, jalan yang sudah ia lalui. Dalam pikirannya, dia berkata, “Ah, masih belum jauh.” Sambil terus melangkahkan kakinya. Sampai langkahnya harus terhenti oleh seekor ular yang berjalan di hadapannya. Sesaat Aevo panik, dan ingin menghindar. Namun, sedikit gerakan tubuhnya, menyadarkan ular tersebut akan kehadiran Aevo di sekitarnya. Ular tersebut memandang Aevo yang sedang berusaha tenang, dan ternyata ketenangan Aevo akhirnya membuat ular tersebut pergi.


Aevo melanjutkan perjalannya dengan sisa bekal yang masih ada. Ketegangan karena ular tadi cukup membuat Aevo kehilangan tenaga. Kini Aevo sampai di posisi tengah dari gunung tersebut. Saat Aevo sadar akan posisinya, ada ketakutan muncul kembali dalam hatinya. Betapa jauh dan terjalnya jalan yang sudah ia lalui, dan yang masih akan dia jalani. Ditambah dengan bekal yang sudah sangat menipis. Aevo takut akan mati di tengah jalan. Sesaat kembali Aevo duduk dan mengumpulkan semangat, kembali pada motivasinya. Setelah yakin, Aevo kembali melangkah. Dia mulai dapat melihat pemandangan yang indah namun masih buram.




Sampailah Aevo pada tiga per empat bagian gunung itu. Ada pemandangan yang sangat mengerikan. Terdapat beberapa tulang belulang manusia di sana. Yang mungkin tewas saat mendaki dunung tersebut. Segera Aevo membuka bekal dan terkejut. Tinggal sepotong roti di sana. Pikiran Aevo terguncang, takut akan kematian yang ada dalam benaknya. Namun saat memandang ke bawah, Aevo sadar, sudah terlalu jauh. Saat memandang sekelilingnya, Aevo mulai melihat pemandangan yang belum pernah ia lihat, namun masih buram. Dan saat ia memandang ke atas, dia sadar, tinggal beberapa langkah lagi. Segera Aevo menghabiskan roti itu, dan dengan tekad bulat memutuskan akan mendaki gunung tersebut sampai tuntas.


Langkah-langkah Aevo terus bergantian, walau lelah sudah tak terkatakan lagi. Aevo terus berusaha, walau terjatuh beberapa kali. Naik, naik, dan terus naik. Sampai Aevo melihat sebuah hamparan tanah datar, dan Aevo kembali terjatuh. Jatuh dan tak sanggup untuk bangun lagi. Aevo mencoba membuka mata dan melihat pemandangan yang sangat indah dan jelas. Keindahan dunia di bawah sana. Warna-warni yang dihasilkan dengan sangat harmonis oleh alam. Aevo sampai di puncak gunung. Gunung tersebut telah takluk. Aevo mengucap syukur, dan dengan pasrah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kelelahannya pada Sang Pencipta. Dia mati. Mati dalam kepuasan hidup. Mati dalam pengertian akan perjuangan hidup dan warna-warni kehidupan. Dedu dan tanah gunung menjadi selimut untuk tidur panjangnya. Eidelways sebagai hiasan dan batu gunung sebagai batu nisannya.



Inilah gambaran kehidupan yang akan, atau sedang, atau mungkin yang seharusnya kita alami. Tetaplah berusaha, yakin pada tujuan hidup kita. Percaya bahwa dari setiap perjuangan akan ada hasil. Sehingga kita pun dapat menghargai hidup kita, dan semakin percaya bahwa Tuhan akan selalu ada dalam hidup kita. Yang akan menghargai setiap usaha dalam hidup kita sesuai harga yang telah Dia tentukan. Sampai akhirnya kita pergi dari dunia dengan kepuasan hidup, dan yang terutama kelepasan yang sesungguhnya.

Tolong “share” ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada pada kisah di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita, terimakasih.

Rabu, 13 November 2013

EDELWEIS ( BUNGA ABADI )



EDELWEIS  ( BUNGA ABADI )

Edelweis adalah bunga yang pasti sudah tak asing lagi bagi para pencinta alam bebas mendaki gunung, karena bunga abadi ini saat ini hanya mampu tumbuh dan besar di tempat dan kondisi alam tertentu hanya bisa tumbuh di ketinggian gunung dan memerlukan sinar matahari penuh. Bunga cantik ini memang akrab dengan para pendaki dan banyak orang mengaguminya  melalui keindahan dan keabadian yang ada pada bunga tersebut. Tak heran kalau bunga ini disebut sebagai bunga abadi, karena mekar dalam waktu yang cukup lama.


Bunga edelweiss sebelum mekar


Bunga edelweis asli atau yang sering disebut dengan Everlasting Flower sebenarnya adalah bunga Leontopodium yang hanya ada di pegunungan alpen, bukan bunga Edelweis Jawa atau Anaphalis javanica. sebenarnya bunga ini adalah serbuk kuning yang dalam waktu 1 - 3 hari setelah mekar akan rontok dan menyisakan kelopak bunganya saja.

Kelopak bunga yang tahan lama inilah yang sering “diambil" oleh para pendaki gunung. Karena tergoda akan keindahan dan keabadian bunga tersebut, yang sebenarnya mengambil/memetik bunga edelweis itu dilarang karena bunga tersebut merupakan bunga yang dilindungi, Dan mereka pun akhirnya kecolongan karena hanya membawa kelopak bunga abadi. Bunga Edelweiss merupakan spesies tanaman berbunga endemik yang banyak ditemukan di daerah pegunungan di Jawa, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan Lombok.


Bunga Edelweiss yang menyukai sinar matahari penuh ini dalam ukuran dewasa dapat mencapai 8 meter tingginya, tapi pada umumnya hanya mencapai tinggi kurang dari satu meter. Bunga edelweiss umumnya terlihat antara bulan April – Agustus, dimana pada sekitar akhir Juli – Agustus merupakan fase mekar terbaiknya.

Bunga Edelweiss ( Anaphalis javanica ) sangat popular dikalangan wisatawan. Bunga ini dikeringkan dan dijual sebagai souvenir. Kondisi ini menyebabkan spesies tanaman ini mengalami kelangkaan . Di wilayah gunung
BromoTengger Jawa Timur, tanaman ini dianggap punah. Jumlahnya yang terus menurun membuat tanaman ini termasuk yang dilindungi
Edelweis hidup di dataran tinggi, ribuan meter di atas permukaan laut. Oleh karena itu, bunga ini banyak dibawa pulang oleh pendaki sebagai bukti dirinya telah menaklukkan sebuah gunung.
Tentunya, hal itu dilarang! Seiring berjalannya waktu, bunga ini terancam punah.
Padahal Edelweis dikenal sebagai 'bunga abadi'. Warnanya yang putih melambangkan cinta, ketulusan. Letaknya di puncak-puncak gunung tinggi melambangkan pengorbanan. Bunga yang bisa bertahan lama melambangkan keabadian.
Di Indonesia, Edelweis terbanyak adalah spesies Anaphalis javanica yang tersebar di Pulau Jawa. Walaupun termasuk spesies langka, tentu saja Anda bisa mendatangi langsung habitat alami bunga ini. Walaupun itu berarti Anda harus mendaki gunung.


1.   Alun-alun Surya Kencana (Gunung Gede, Jawa Barat)
Salah satu padang Edelweis terbesar di Indonesia adalah Alun-alun Surya Kencana. Ribuan tanaman Edelweis memenuhi dataran seluas 50 hektar, dengan ketinggian 2.750 mdpl. Untuk mencapai tempat ini, Anda bisa mendaki Gunung Gede lewat jalur Cibodas atau jalur Putri. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terletak di tiga kabupaten, yakni Bogor, Cianjur, dan Sukabumi.
Dari jalur Cibodas jaraknya sekitar 11 kilometer, atau 8 jam pendakian. Jika mendaki lewat jalur Putri Anda bisa sampai di Alun-alun Surya Kencana lebih cepat, namun jalurnya lebih terjal.


2.   Alun-alun Mandalawangi (Gunung Pangrango, Jawa Barat)


Masih di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Anda bisa menemukan satu lagi padang Edelweis dengan panorama yang indah. Alun-alun Mandalawangi terletak di Gunung Pangrango, sekitar 2-2,5 jam dari Kandang Badak yang merupakan titik temu Puncak Gede dan Gunung Pangrango.
Karena terletak lebih tinggi dari puncak Gunung Gede, Edelweis di Alun-alun Mandalawangi lebih rimbun dan ukuran bunganya lebih besar. Walaupun luasnya tak sebanding dengan Alun-alun Surya Kencana.
Satu nilai lebih yang ditawarkan Alun-alun Mandalawangi adalah panoramanya yang indah. Jika cuaca sedang cerah, Anda bisa melihat kawah Gunung Gede yang berada di bawahnya. Tak hanya itu, Anda juga bisa menikmati rimbunnya Edelweis sambil memandang megahnya Gunung Salak.



3.   Plawangan Sembalun (Gunung Rinjani, Lombok)
Dengan ketinggian 3.726 mdpl, Rijani dikenal sebagai salah satu gunung terindah di Indonesia. Jika mendaki gunung ini, Anda akan berkutat dengan padang rumput nan luas berhari-hari lamanya. Jika punya kesempatan untuk mendaki Rinjani, gunakanlah jalur Sembalun yang terkenal indah.



Setelah 12 jam pendakian melewati Pos 1, Pos 2, dan Pos 3, maka Anda akan tiba di Plawangan Sembalun. Ini adalah camping ground dengan pemandangan super cantik yaitu Danau Segara Anak. Apalagi, bunga-bunga Edelweis tumbuh subur di sekelilingnya. Di pinggiran sungai, di bukit-bukit, juga di antara tebing bebatuan.

4.   Tegal Alun (Gunung Papandayan, Jawa Barat)
Papandayan yang terletak di Kabupaten Garut boleh saja kalah tinggi dengan gunung-gunung lainnya. Tapi, gunung dengan ketinggian 2.665 mdpl ini punya magnet bagi para pendaki. Salah satunya adalah kawah-kawah belerang dengan pemandangan yang eksotis. Namun, yang menjadi favorit para pendaki adalah Tegal Alun, kawasan puncak Gunung Papandayan.




Hal apa yang lebih menyejukkan dibanding melihat hamparan luas padang Edelweis di puncak gunung nan indah? Sebagai pendaki, hati Anda pasti tersejukkan dan letih pasti hilang.

Selain keempat gunung ini, Indonesia masih punya beberapa tempat lain yang menjadi habitat bunga Edelweis. seperti padang edelweis di Sindoro, Kawah Gunung Lawu, Sabana Merbabu. Namun, mendaki gunung dan mengunjungi habitat aslinya akan membawa kesan tersendiri. Bayangkan saja padang Edelweis terhampar indah di depan mata.

Larangan untuk memetik bunga ini terpampang jelas, namun kerap kali pemetikan bunga Edelweiss sulit dihindarkan dari tangan - tangan jahil yang mencoba menyelundupkan bunga tersebut.

Kabar gembiranya, bunga
Edelweis Jawa ( Anaphalis Javanica ) ini sudah banyak dibudidayakan oleh para petani di daerah Dataran Tinggi Dieng di Jawa Tengah. Para petani ini membudidayakannya dengan cara menanam anakan yang tumbuh dari biji dan tersebar di sekitar pohon induknya serta ditanam di daerah dataran tinggi lebih dari 1000 mdpl, pada tanah liat berkapur atau berpasir dengan pH ( keasaman tanah ) antara 4 - 7.

Harus Kemauan dan kesadaran yang gigih dari kita untuk membuat Edelweis tetap menjadi bunga abadi dan tumbuh di alamnya. Sebagai pencinta alam bukan hanya sekedar menikmati keindahan alamnya saja tetapi kita harus menjaganya tetap alami agar kelak anak cucu kita dapat merasakannya keindahan alam yang masih lestari dan terjaga, Biarkan dia disana untuk menyambut para pendaki dengan indahnya. Jaga Edelweis dari hati dan tetap Abadi.